Cara Ampuh Mendidik Lelaki Iseng

Kereta pagi, Stasiun Jawa-Tengah-Paling-Barat, pertengahan minggu kerja.

MANGSA:

Wanita Belum-Paruh-Baya, sendirian, duduk di gerbong kelas tidak-pakai-AC, di kereta api yang tidak-terlalu ramai, pakaiannya serba hitam, kentara belum mandi tapi bercahaya dalam kenikmatan duniawi: membaca buku ditemani kretek dan kopi tubruk di pagi hari.

PEMANGSA:

Lelaki Belum-Paruh-Baya, mengenakan seragam pegawai kereta api, cincin kawin melingkari jari manisnya, bertahun-tahun kerja di kereta jarang melihat orang membaca buku, apalagi yang berpenampilan imut-seram seperti wanita ini.

Di Awal Perjalanan

Di awal cerita “Penjahit Kesedihan”, Lelaki Belum-Paruh-Baya duduk di sebelahnya. Wanita Belum-Paruh-Baya mengangkat mata dan mengangkat alis, lalu kembali membaca. Lelaki Belum-Paruh-Baya gemas. “Mbak mau ke mana? Namanya siapa? Kok judul bukunya aneh? Apa artinya bibir terindah di dunia? BlablaKHASLELAKIISENGblabla…”

Wanita Belum-Paruh-Baya membalas semuanya dengan diam beragam: senyum sopan, lalu senyum terpaksa, lalu gelengan kepala, akhirnya pelototan sebal saking lawannya bersikeras bolot menafsir tanda sampai kelelahan sendiri.

Di Tengah Perjalanan

Di tengah cerita “Sepotong Bibir Terindah di Dunia”, Lelaki Belum-Paruh-Baya kembali mengusik ketenangan. “Mbak sakit gigi ya? Kok diem aja seeeeeh? Itu buku apa? Kok seru banget bacanya? BlablaMAKINPANJANGblablabla…Jawab dong, mbak, apa artinya bibir terindah di dunia?”

Plak!

Sesuatu yang bersayap dan berbau kemarau menampar wajah Lelaki Belum-Paruh-Baya. Saat buku yang terbuka itu melorot dari wajah ke pangkuannya; lelaki itu melihat kepuasan di wajah pelemparnya, dan jari yang menunjuk ke sebuah paragraf.

“Saya tidak senang membaca.” kata lelaki itu, mukanya panas karena malu, matanya pedas melihat huruf.

Masih tak melepas suara, malaikat tak-bersayap wanita itu mengetuk-ketuk halaman dan kembali memaksanya membaca.

“Terlalu panjang…Saya bakal pusing…mengantuk kalau harus membaca sebanyak…”

“Baca sampai sini saja.”

Lalu keduanya diam. (“Mari kita lihat sesakti apa bahasamu, Agus Noor,” bisik wanita itu dalam hati.)

Di paragraf pertama, mata si lelaki bergerak cepat ke akhir halaman. Lalu halaman itu dibalik. Dan tawanya pecah.

(“Ah-hah!” pekik wanita itu dalam hati. “Kena kau!”)

Lembaran berikut-ikutnya tersibak. Tak lama punggung si lelaki melemas; dari tegak jadi bersandar. Wajahnya berubah-rubah, dari geli menjadi haru, dari senyum lebar jadi kerut tak-setuju. Baca-sampai-sini-saja telah lama dilewati. Inderanya bungkam; dunianya tenggelam. Tinggal gema sayap peri pendongeng, diiringi gemuruh pagi yang bergulung siang; mendahului kereta sampai di stasiun tujuan.

Stasiun Jatinegara

Masih dalam hening, wanita itu berkemas dan menarik senyum perpisahan untuk lelaki dan bukunya. Tapi lelaki itu tak faham, terlalu hanyut di lain alam. Maka akhirulkalam:

“Aduh,” keluh wanita di gerbang stasiun, gugup dipendeliki polisi, “Karcisku masih menandai buku tadi…”

__________________
Ditulis oleh Alia Makki

53 thoughts on “Cara Ampuh Mendidik Lelaki Iseng

  1. Komentar saya cuma satu …
    dan mungkin OOT …

    Lelaki belum paruh baya itu …
    kurang eiylekhan …
    kurang khalant …

    masih perlu di training dia …
    mesti harus belajar dengan Lelaki hampir paruh baya …

    hah …

    • diisengin sering ya (dik) Hari…
      Wajarlah itu karena kau Pemuda Tampan dari Purbalingga karena “kang Mas” mu ganteng 😀

    • Dia baca “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia”.

      Bukan diusir, tapi tersendat keluar dari stasiun karena karcisnya masih membatasi halaman buku di tangan Lelaki Belum-Paruh-Baya yang masih melanjutkan perjalanan entah ke mana. (?_?)

  2. suatu sudut pandang yang unik dan baru.. saya salut sama orang yang bisa menulis dengan sudut pandang yang baru walaupun temanya sama.

    brilian!

  3. mmm.. lama g’ ngeblog (huh! sampai lupa cara tulisnya),
    Ju2r spt ktinggalan kreta wkt simak artikel diatas.
    Salam kenal ‘tuk penulis.
    Salam juga ‘tuk Kyaine dkk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s