Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#9)

85

Lelaki Selembut Ibunda

Oleh: Ibu Nakja

Ibunda adalah wujud kelembutan yang hadir di dunia ini, oleh karena itu hanya kepada ibunda-lah Ar Rahim menitipkan sebuah rahim. Namun menurutmu adakah lelaki yang memiliki kelembutan seperti ibunda? Bagiku jawabannya : Ada.

Rasulullah SAW adalah lelaki yang lembut itu. Bahkan melebihi kelembutan semua ibu yang ada di muka bumi.

Pernahkah aku bertemu lelaki seperti itu? Jawabnya: Pernah. Aku dan dirimu mengenal lelaki yang lembut tersebut, karena dia bernama Ayah.

Ayahku dan Ayahmu.

Aku selalu ingat obrolan pagi buta yang sering terdengar sebelum aku beranjak dari tempat tidur. Sambil menghirup kopinya ayah akan tertawa-tawa mendengar ibu menceritakan kelakuanku seharian kemarin. [ternyata penting bagi ayah menanyai ibu tentang kami setiap hari]

Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#8)

32

Teruntuk Sang Bunda

Oleh: Nenyok

Bunda..Ku pernah radangkan hatimu hingga bulan menutup matanya karena jengah dan malu melihat manusia seperti aku manusia tak tahu malu.

Bunda..Ku pernah gejolakkan amarah jiwamu hingga matahari berpaling menjauhkan senyum paginya, enggan membagi cahaya untukku, manusia seperti aku, yang penuh penolakan

Bunda..Ku pernah mengalirkan sungai untuk airmatamu hingga tangis hujan tercurah deras, tuk samarkan pilumu, sejukkan hatimu dari tajamnya kata yang kutoreh dari serapahku yang bermata pisau kebencian

Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#7)

41

Di Ujung Kain Emak

Oleh: Pakde Cholik

Jombang, Juli 1975

Pagi itu aku sudah siap dengan pakaian dinas harianku. Stelan celana dan hem hijau, kopelriem putih, tali bahu putih dan baret biru kebanggaanku sudah menempati posisinya.

Hari itu aku akan berangkat ke Bandara Juanda Surabaya untuk selanjutnya terbang ke Balikpapan – pos pertamaku setelah aku lulus dari Kursus Dasar Kecabangan Perwira Polisi Militer di Pusdikpom – Cimahi.

Setelah memberi nasihat macam-macam “Sing ati-ati yo nak, ojo nyengit karo anak buah, nyambut gawe sing temen, ojo katik korupsi, sing sering ngirim surat, yen libur sambang mulih“ dan lain-lainnya, emak menyuruhku jongkok di depannya. Walaupun heran aku mengikuti perintah  itu, aku jongkok  – berlutut di depan emak.  Wanita tegar itu kemudian menarik ujung kainnya (kain jarit) lalu diusapkannya ke wajahku sambil berkata, “slamet sak polah tingkahmu nak, adoh bilaimu“.

Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#6)

45

Trainer Dimarahi

(Judul lengkapnya seharusnya adalah “Trainer Kecil dan Adiknya … Dimarahi Ibu”)

Oleh: NH18

Namanya juga masih anak-anak, Trainer Kecil dan adiknya kadang juga dimarahi Ibunya.  Sejatinya Ibuku adalah seorang yang sangat sabar, kalau bicara pun lemah lembut.  Sehingga kalau beliau marah itu artinya, tindakan kami memang sudah keterlaluan. Dan marah itu tentu merupakan upaya Ibu untuk mendidik kami, sepasang anak-anaknya.

Ada satu peristiwa yang masih aku ingat sekali … And I think … Adikku Tante Sruntul pun juga masih ingat akan peristiwa ini.  Suatu peristiwa dimana Ibu marah besar pada kami berdua.  Aku lupa tahun berapa persisnya.  Sekitar tahun 72-73-an lah.  Aku masih SD.  Kami masih tinggal di suatu kompleks perumahan dosen di kawasan Ciputat.

Sore hari, sekitar jam 4-an … Ciputat habis diguyur hujan lebat … dan masih meninggalkan gerimis rintik-rintik.  Ibu meminta kami berdua mandi sore dan berganti pakaian piyama masing-masing.  Aku berwarna biru … adikku pink … Ahhh sudah segar dan bersih semua. Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#5)

47

Seorang Ibu Juga adalah Manusia Biasa

Oleh: Bunda Lily

Saya tidak akan membahas permasalahan yang menjadi pembicaraan para ahli, yang jelas, sebagai seorang anak kita kadang mengharapkan segala-galanya dari orang tua terutama ibu.

Bahwa ibu akan selalu melindungi kita, membenarkan perbuatan kita, mencintai kita tanpa syarat, walau kita bersalah sekali pun, kita mengharapkan sebuah pengabdian total dari seorang ibu, apabila tidak didapatkan, maka aneka pikiran dan prasangka akan datang melanda. Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#4)

69

Milikku Seperenam

Oleh: Uda Vizon

Ketika kau telah memutuskan untuk menikah, maka saat itulah dirimu sudah tidak lagi jadi milikmu sepenuhnya. Bagilah jiwa dan ragamu sebanyak anggota keluargamu.

Kita perlu memiliki kontrol akan diri kita, sehingga tidak mudah terperosok dalam liang kenistaan. Salah satu alat kontrol yang efektif menurutku adalah kesadaran akan adanya jiwa-jiwa lain selain jiwa kita yang menggelayut dengan diri kita, yakni keluarga.

Aku, setelah memiliki istri, bertekad dalam hati untuk membagi jiwa dan ragaku menjadi dua. Setengah untuk istriku dan setengah lagi untuk diriku sendiri. Namun, begitu punya anak, maka pembagian itupun berubah. Dengan empat orang anak yang kami miliki, maka itu berarti dalam rumah kami ada 6 jiwa; aku, istriku dan keempat anakku. Dengan demikian, maka aku bagi jiwa dan raga ini menjadi enam bagian. Lima perenam kuberikan dan kucurahkan bagi istri dan anak-anakku, sementara yang seperenam lagi barulah milikku sepenuhnya. Continue reading

Karnaval Blog: Minum Teh Bersama Ibu (MTBI#3)

49

I Just Wanna Say, I Love You Mom

Oleh: Ismi Humairo

Baru satu tahunan aku mengenalmu, tapi rasa sayangku ini tak ubahnya rasa sayangku pada Ibu kandungku sendiri.

Ya, she is my mother in law………

Sejak pertama kali bertemu, aku bisa melihat dan merasakan telaga nan sejuk dan bening terpancar dari matamu…sampai sekarang engkau tidak pernah menganggap aku sebagai menantu, dan setiap kali ada orang lain yang bertanya siapa aku, pasti engkau jawab “ini anakku….” Subhanallah…… indah sekali kata-kata itu, aku tidak pernah dianggap menantumu, tapi telah dianggap sebagai anakmu sendiri. Aku sayang Ibu……… Continue reading