Derajat Al Quran

Masih ingat dengan cerita Spiderman vs Superman dari ~noe~? Salah satunya berkisah strategi SunTzu tentang bagaimana memancing macan turun gunung, menjadi linglung karena tidak mengenal medan, sehingga akan dengan mudah dihabisi oleh musuhnya.

Kemarin diriku mendapatkan forward-an email tentang bukti-bukti kebenaran kisah Nabi tentang pembelahan bulan. Gambar permukaan bulan dengan tanda-tanda bekas terbelahnya bulan sangat jelas ditampilkan di sana dan dihubungkan dengan ayat : β€œTelah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (QS Al Qomar 54:1-2).

Kemarinnya dulu diriku juga mendapatkan email yang mirip, yaitu tentang bentuk dari bigbang atau terciptanya atau punahnya bintang yang membentuk mawar merah merekah hasil teleskop angkasa luar NASA (katanya) yang disebutkan sesuai dengan bunyi salah satu ayat : “Selain itu (sungguh ngeri) ketika langit pecah belah lalu menjadilah ia mawar merah, berkilat seperti minyak”(Ar-Rahman: 37).

Entah, esok lusa akan ada email seperti apa.

Bukannya diriku tidak percaya dengan kebenaran ayat suci ini, namun inti dari email itu adalah tentang kebenaran kitab suci ditinjau dari sisi pembuktian empiris ilmu pengetahuan.

Ini kurang lebih sama dengan usaha dari para antagonis untuk menarik macan turun dari gunung, meninggalkan substansi dari ajaran kitab suci untuk kemudian berasyik masyuk tentang fakta dan nalar. Ilmu pengetahuan menjadi dasar dari bujukan turun gunung ini. Ibarat pedang bermata dua, ilmu pengetahuan bisa menjadi justifikasi pembenaran dan sekaligus bisa berbalik menjadi sumber tercerabutnya iman karena ketidakmampuan mengolah nalar dihubungkan dengan isi kitab suci.

Seorang kawan pernah berkata, janganlah dirimu cepat menyanjung orang yang dengan ilmunya mampu membuktikan kebenaran Al Quran, karena bisa jadi dengan ilmunya itu pula dia bisa memutarbalikkan kebenaran Al Quran.

Pola pikir yang terseret jauh dari prinsip-prinsip keyakinan ini yang menjadi makanan empuk para antagonis itu. Salah satunya adalah pemutarbalikan hikmah dengan penyebab. Pola nalar yang membudaya ini sudah menyebabkan kerancuan atas nash. Otak kita secara otomatis akan menganalisis bahwa kandungan cacing pita di dalam daging babi itulah sebagai penyebab utama daging babi diharamkan. Atau menafsirkan secara baku ayat tentang pembentukan janin yang digothak gathik gathuk dengan proses perkembangan janin dalam ilmu kedokteran modern. Padahal tafsir sendiri bukan harga mati, di sisi lain penelitian tentang proses perkembangan janin juga selalu berkembang dan bisa berubah drastis setiap saat.

Kita selalu terlambat berpikir dan gagal mengantisipasi jika kebenaran ilmu pengetahuan yang telah di-klop-kan dengan tafsir ayat tertentu itu masih semu dan bisa berkembang ke arah yang berbeda.

Ustad Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al Quran mengajak kita untuk kembali ke rumah jika semua hal di atas hanyalah dimaksudkan untuk mencari kebenaran Al Quran. Masih sangat terbentang luas dalam hamparan buku suci ini yang bisa kita ambil hikmah kebenarannya. Bahkan jika kita ingin sekedar gothak gathik gathuk pun masih tersedia ruang untuk itu, yaitu dari sisi struktur Al Quran yang sedemikian dramatis dalam penyusunan kalimat dan katanya. Contoh sederhana saja yaitu bilangan kata tertentu bisa memunculkan suatu keajaiban dalam jumlah, dalam posisi, dan dalam arti.

Jika rumah ini belum bisa kita sentuh dan rawat, alangkah bijaksana jika kita tidak terlalu jauh bermain di perangkap nalar dan ilmu pengetahuan, hanya demi pembenaran yang belum hakiki. Lebih dari itu, Al Quran adalah undang-undangnya ilmu pengetahuan, sehingga akan menurunkan derajatnya jika ia ditempatkan hanya sebagai diktat ilmu pengetahuan saja.

________________________
Artikel ini ditulis oleh : ~noe~

33 thoughts on “Derajat Al Quran

  1. Rang rantau kasih nilai artikel ini 90… diatas rata-rata πŸ™‚ namun untuk mempermudah peta pemikirannya, dibawah ini Rang rantau membedakan pola nalar antara sekularisme dengan Isalmis :

    Sekuler : Islam
    Alam —-> Pengetahuan —–> Iman Iman —-> Pengetahuan ——> Alam

    Bedanya hanya di start awalnya, orang beriman selalu berpijak kepada Keimanan kepada Allah SWT sebelum yang lainnya, namun para sekuler tidak akan beriman manakala tidak sejalan dengan Ilmu Pengetahuannya.
    Demikian sedikit tambahan atas artikel yg sangat menarik ini.
    .-= rang rantau punya artikel menarik dengan judul ..Andai Kau Tahu =-.

    • terimakasih untuk tambahan dasar pemikirannya.
      memang kita harus kembali lagi ke niat awal pemunculan wacana di atas.
      dan nilai 90 itu benar2 tidak disangka πŸ™‚
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

  2. sebuah artikel yg sangat menarik dan mencerahkan dari mas noe delenger………..

    saya kira tidak salah apabila ada seorang yang mengetahui penafsiran al Qur’an secara mendalam, sementara tafsir itu bersifat dinamis dan subyektif tergantung yg menafsirkan, apabila orang itu memutar balikkan fakta atau nash didalam al qur’an maka bisa ditinjau dari keniatan orang itu, mau menyesatkan atau mencerahkan, apabila niat mau mencerahkan maka itu sebuah otokritik bagi dirinya yg menafsirkan dan kritik bagi yg menafsirkan seolah olah merasa paling benar dengan tafsirnya, bagi yang menyesatkan maka biasanya diambil suatu kesimpulan yg bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya juga masih belum tahu tentang hakekat terdalam al Qur’an tapi seolah olah sudah tahu atau merasa paling tahu………………ini hanya tinjauan wong bodo seperti saya yg semoga bisa bermanfaat……..
    .-= m4stono punya artikel menarik dengan judul ..Hakekat Struktur Buah Kelapa =-.

    • betul, mastono.
      ini hanya salah satu bentuk kekhawatiranku terhadap informasi pembuktian2 ilmiah Alquran yang jarang sekali kita tengok sumber awalnya. rata2 begitu takjub menerima informasi yang sangat dahsyat ini dan langsung menforwadkan ke yang lain. padahal kita mempunyai hadist yang sudah mengajari kita untuk memperhatikan dengan hati-hati sanad matan perawinya.
      kalo wong bodo aja begini, gimana pinternya πŸ˜€
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

  3. Salam
    Aku kira tak ada salahnya jika ada yang bersusah-susah membuktikan apa-apa yang ada dalam Alquran ya mksdnya bikan sesuatu yang keliru juga gitu, jika dengan niat baik saat semua terbukti tentunya membuat mereka mengimani dan akhirnya menjadikan iman sebagai landasan utama dalam meyakini kebenran Alquran, dan aku kira kita juga tak perlu merasa skeptis jika kemudian penemuan2 itu banyak yang sesuai dengan kebenaran yang ada dalam alquran, krn yg terpenting dasar untuk keyakinan itu bukan karena pembuktian2 tsb tapi krn iman itu tadi. jd kalaupun sains yang kita percaya ternyata kemudian berubah, ya krn sifatnya yang dinamis dan Alquran itu sendiri memberikan peluang untuk berbagai macam penafsiran dan berbagai sudut pandang, maka tidak membuat kita goyah untuk tetap dan meyakini kebenaran Alquran atas dasar iman tadi.

    *fiuuh bacaan berat re…
    .-= nenyok punya artikel menarik dengan judul ..Nine Eleven =-.

    • *fiuuh komeng yang berat ni…
      kembali ke dasar iman, kata rangrantau
      dan mencermati sumber awalnya yang menafsirkan, kata mastono.
      kalo kedinamisan alquran memudahkan kita untuk setiap saat meng-klop-kan ayat dengan penemuan, maka tafsir sendiri menjadi kontraproduktif. ini bisa menjadi zaman kegelapan kedua. jika kegelapan yang pertama ilmu dikekang oleh gereja yang akhirnya menjadi bumerang bagi gereja, di jaman ini penempatan frontal ilmu pengetahuan terhadap tafsir gothak gathik bisa mengulangi kekalahan gereja thd ilmu pengetahuan.
      diriku ingin ada tafsir yang smart, yaitu bagaimana tetap mengakomodasi tiap perkembangan ilmu itu dengan koridor kitab suci. hanya berbeda tipis dalam konteks dinamis itu πŸ™‚
      just my opinion…
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

  4. hmm, para guru sejati sudah pada komen diatas.. bundo boleh OOT aja yaa πŸ˜€

    masih boleh usul..? gus tolong bikin pilihan acung jempol atau bintang untuk tiap postingan
    biar bundo bisa klik yang itu saja klo lagi gagap dan gugup untuk komen
    biasanya itu terjadi di artikel tamu, Alia.. dan skrg ditambah lagi dengan noe

    **sigh**
    .-= nakjaDimande punya artikel menarik dengan judul ..Unshakeable Mentality =-.

    • sayang bundo tidak dibiasakan menulis : “tulisan yang bagus”, atau “opini yang dalam” πŸ™‚
      tapi bundo malah terlalu merendah.
      memang benar bundo, diriku mesti terengah-engah dulu baca komeng sebelumnya sebelum bisa mereply. sangat dalam dan memberi masukan yang berarti. dan diriku yakin penggalan2 masukan itu bisa mengarah kepada hal yang positif.
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

    • OK.. mulai besok akan bundo coba untuk menulis: “Tulisan yang sangat bagus, noe..! two thumbs up, fantastic, courageous and powerful..!!!” **serasa jadi kritikus film πŸ˜›

      tetap pesan buat guskar.. sapa tau beliau sudah bisa bikinin pilihan acung jempol yang bisa diklik kaya di FB itu πŸ˜€
      .-= nakjaDimande punya artikel menarik dengan judul ..Pulang ke kotamu.. =-.

  5. Upaya menalarkan Al-Quran sah-sah saja, namun jika penalaran itu tidak menghasilkan sesuatu yang diinginkan jangan sampai merubah keimanan dan menjadi kekafiran. Oleh karena itu jika penalaran menghadapi jalan buntu maka imanlah yang harus dikokoh-kuatkan. Akal dan nalar manusia sungguh sangat pendek, walaupun manusia yang PR-nya 10/10 sekalipun.

    Ini sebuah contoh penalaran tentang peristiwa Isra’ Mi’raj.

    Seekor ikan diambil dari sebuah kolam. lalu dimasukkan toples dan dibawa ke kota naik sepeda motor. Di kota, manusia yang membawa ikan jalan-jalan dulu ke mal, ke pasar, ke bank dan tempat-tempat lain, sambil tetap membawa ikan tersebut. Setelah urusannya selesai manusia kembali kerumahnya yang jaraknya 10 km dari kota. Ikan dimasukkan lagi ke kolam.

    Ketika ikan bertemu dengan teman-temannya maka dia berkata ” Saya baru saja ke kota, naik sepeda motor. Dikota saya lihat barang bagus-bagus di mall, ada TV, sepeda,baju,parfum, jaket, rice cooker dan pokoknya yang bagus-bagus deh “.

    Ikan-ikan yang lain tidak ada yang percaya.Bahkan ada yang mencemoohkannya. Hanya beberapa ikan yang akhirya menyadari bahwa ikan ke kota tentu bukan sendirian tetapi ada kekuasaan lain diluar ikan. Mereka akhirnya percaya.

    Awalnya, manusia tidak percaya bahwa Rasulullah saw Isra’ Miraj hanya semalam, hanya beberapa orang yang meng-imani bahwa semua itu karena kekuasaan Allah Swt. Akal manusia tak mampu menjangkaunya, maka harus di imani.

    Kepanjangan ya Gus.
    Salam hangat dari Surabaya.

  6. perlu dua kali membaca untuk kemudian memahami isi postingan ini ( lemot..? mungkin .. πŸ™‚ )

    saya sepakat bahwa kita tidak terlalu jauh bermain di perangkap nalar dan ilmu pengetahuan, hanya demi pembenaran yang belum hakiki karena sangat mungkin kita sebenarnya belum benar-benar memahami isi Al Quran itu sendiri…

    jadi teringat seorang kakak kelas kuliah dulu.. teman-teman, termasuk saya waktu itu, memandang ia sebagai orang yang sangat agamais..seorang ikhwan.. sampai tiba-tiba ia memutuskan untuk tidak lagi sholat.. !! entah apa yang terjadi padanya.. mungkinkah ia telah salah menafsirkan Al Quran.. seperti yang mungkin terjadi pada kaum antagonis itu.. hingga kemudian sesat.. ?
    .-= ceuceusovi punya artikel menarik dengan judul ..Kapan Kita Pantas Berkata β€˜Pasrah’ ? =-.

    • bisa jadi pemakaian kalimatku yang tidak novelis oriented πŸ™‚
      ikut prihatin dengan kakak kelas. tapi penyebabnya bukan karena salah menafsirkan, bisa jadi karena tidak mampu menafsirkan. dan pada saat itu nalar sudah mendoktrin jiwanya.
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

  7. Ehmm…
    sejujurnya saya jadi bingung siapa yang terjebak sekarang. Mereka yang disebutkan dalam artikel ini dikatan terjebak dengan tafsir saklek, dengan menggothak gathik gathukkan ilmu pengetahuan dengan al-quran (saja) dan selesai! Tapi sepertinya penulis juga terjebak pada ‘mitos’ bahwa tafsir adalah sesuatu yang dinamis, dan berjalan terus sesuai dengan perkembangan jaman. Di sini, tafsir tidak boleh berhenti pada titik tertentu, dan harus terus berjalan. Berarti tidak akan pernah ada tafsir final, karena tafsir selalu berubah.
    OK, kembali ke tafsir ilmu pengetahuan tadi. Sepertinya fine-fine saja, dengan catatan bahwa tafsir ini tidak menjebak pada satu titik hingga tafsir berhenti begitu saja. Toh, ini juga bagian dari Tafakkaruu fi al kholqi wa la tafakkaruu fi al khooliq kan?
    .-= Den Mas punya artikel menarik dengan judul ..Dulu Iya, Sekarang … =-.

    • informasi, email, dan berita gothak gathik tafsir ini yang menurutku sudah saklek. berangkat dari sini diriku coba garis bawahi kembali bahwa sifat tafsir adalah dinamis -menurutku. opini ini adalah salah jika sifat tafsir tidak dinamis.
      dan tentang tidak adanya tafsir final itu, coba kita kembalikan lagi kitab suci ini ke derajat yang sebenarnya sebagai undang-undang yang jauh lebih tinggi dibanding hanya sebagai diktat.
      mungkin karena gaya penulisanku yang rada aneh ya, denmas, jadi agak muter-muter.

      denmas, karena pengetahuan agamaku sangat cetek, barangkali kucoba pake analogi saja ya.
      misalnya analogi lampu merah di prapatan. kenapa kendaraan harus berhenti? padahal itu hanya sekedar lampu.
      tafsir diktatnya : karena ada polisi ngumpet di pos, karena direm, karena khawatir nabrak penyeberang jalan, dll, dan itu bisa berubah tergantung yang nalarnya paling kuat. maka tidak akan ada tafsir final.
      sedangkan tafsir undang-undangnya : segala sesuatu yang sudah menjadi kemufakatan umum dan itu sangat bermanfaat maka wajiblah bagi kita untuk menjalankan kesepakatan itu. dan alquran tidak wajib mengatur sampai ke detil operasionalnya.
      barangkali begitu.
      hehe… ini mungkin tafsir selengekan πŸ˜€

      kalimat arab terakhir itu apa artinya ya?
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

    • Tafakkaruu fi al kholqi wa la tafakkaruu fi al khooliq

      kurang lebihnya, berpikirlah tentang ciptaan (Allah) dan jangan kau memikirkan Sang Pencipta.

      Oh, ya, aku barusan mikir, apakah dengan kedinamisan tafsir, kemudian perkembangannya membuat tafsir yang lama tidak terpakai, atau usang? sepertinya tidak. Pun mungkin, model tafsir seperti ini juga bisa dijadikan rujukan untuk tafsir selanjutnya, dengan alasan kedinamisan ilmu pengetahuan. Tafsir Al-Quran sendiri kan juga berkembang dengan dinamis tanpa menafikan tafsir-tafsir lama.

      (wah, kayane gak ono entek2e kih :mrgreen: )
      .-= Den Mas punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Sehiatus-hiatusnya =-.

    • Tambahan ding πŸ˜€

      ini ada daftar beberapa tafsir klasik, yang sampai sekarang masih dijadikan pijakan untuk tafsir-tafsir modern.

      http://www.ltqdewandakwah.co.cc/2009/03/kitab-kitab-tafsir-populer.html

      Oh, ya, ding. Aku itu punya kepercayaan, bahwa karya2 abadi, yang ditulis pada jaman dahulu, kemudian masih bertahan sampai sekarang, itu juga atas campur tangan Tuhan. Jadi memang karya-karya itu dijaga sebagaimana Al-Quran sendiri. Kalau di pesantren salafiah tradisional, banyak cerita-cerita mistis dan tidak masuk akal tentang proses penulisan karya-karya luar biasa itu. sayang, semua sudah terpendam, semoga nanti setelah lebaran ada cerita2 tentang seperti itu πŸ™‚
      .-= Den Mas punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Sehiatus-hiatusnya =-.

  8. Wah … isine abot (berat) … jadi yg pinter2 aja yg kasih komeng.
    Aq cuma meramaikan saja. Al-Qur’an dan nalar sdh pasti bisa ketemu … tp jgn semuamengandalkan nalar. Dzat Allah ada tapi tdk bisa ditakar oleh nalar karena kapasitas otak tdk cukup. Musa as yg terkenal kuat melebihi Mike Tyson – pun tdk sanggup melihat kemuliaan dzat Allah.
    Tapi … kebenaran al_Qur’an akan dpt ditelusuri lewat bukti2 empiris. Contoh : dulu gereja meyakini bumi sbg pusat tata surya … yg ‘ngeyel’ alias tdk setuju dgn teori itu dihukum (dibunuh) … akhirnya al-Qur’an megkoreksi pemahaman tersebut.

  9. yang komen orang2 hebat semua. Bagus-bagus.
    Saya cuma teringat kata salah seorang ustadz di masjid dekat rumah saya.
    janganlah menggunakan Al Qur’an sekedar sebagai pembenar apa yang telah kamu percayai.
    saya sendiri kurang paham maksud ustadz tersebut. Mungkinlantaran saya mendengarkannya dengan setengah terkantuk-kantuk. Mungkin aja ada hubungannya dengan artikel ini.
    .-= alamendah punya artikel menarik dengan judul ..Anggrek Hartinah Anggrek Tien Soeharto =-.

    • barangkali kepercayaan kita terhadap sesuatu itu sudah dipakai dasar untuk meyakini sesuatu dan alquran hanya dipakai sebagai legalitasnya saja. kadang kalo cuma nangkep sepenggal memang bisa bermakna lain.
      terimakasih, alam πŸ™‚
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

  10. Assalaamu ‘Alaikum
    Selamat Pagi !!!
    Pagi ini Abifasya menyapa sahabat dengan penuh kerinduan,
    Mari sambut hari senin ini dengan penuh keceriaan dan harapan untuk senantiasa mendapatkan Ridla Allah, awali langkah kita saat hendak barangkat kerja dengan “Bismillah”, semoga Allah menjadikan langkah-langkah kita sebagai amal shaleh.
    Dan jangan pernah berkata : “Aku Benci Hari Senin”
    Salam Ramadlan penuh Berkah.

  11. Sama halnya dengan kejadian-kejadian yang dikategorikan sebagai “keajaiban”, seperti ada lafadz Allah di tubuh ikan, atau di awan, atau di dalam tomat, dsb. Menurut saya, justru hal itu malah “merendahkan” kebesaran lafadz itu sendiri. Hanya untuk membuktikan bahwa Allah itu memang benar2 Berkuasa atas segala sesuatu, lantas orang menunjukkan keajaiban2 itu. Sangat tidak sepadan. CMIIW
    .-= dinoyudha punya artikel menarik dengan judul ..Mudik 1430H: Jakarta-Ngawi-Semarang =-.

    • iya…
      beberapa sikap menurutku sudah pada level kekonyolan. hal-hal seperti ini yang mestinya kita benahi.
      *ahh apakah diriku juga sudah terjebak nalar dengan berpendapat seperti ini 😐
      .-= ~noe~ punya artikel menarik dengan judul ..Hiatus Analitic =-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s