15 Kepeng

Prolog: Otohajar

Setelah 10 tahun berwujud sebagai Hning di dunia maya, dua bulan menulis dengan nama Alia Makki menyebabkan bebal inspirasi yang tak wajar. Bukan saja beban mental & sejarah Alia terangkut dalam dunia maya, tapi Hning sebagai pribadi utuh di dunia maya makin tergusur beban kredibilitas, wadah dan  yah, realita bahwa manusia tidak bisa makan & menghisap kita.

Ditambah dengan gegar Ramadhan yang menajamkan ketergantungan nikofein (nikotin + kafein), kami — Alia & Hning — juga mengalami krisis identitas. 

Dari segi spiritual, memiliki dua pribadi yang sangat nyata di ruangnya masing-masing sebenarnya sama ngawurnya dengan sikukuh satu atau tigabelas pribadi. Karena manusia sebenarnya bebal tidak ada, dan yang kekal malah yang tak nampak.

Di bukunya, Tidak. Jibril Tidak Pensiun, Emha Ainun Nadjib menyeka dongeng Siti Djenar  dengan lerainya:

“Apa yang [Siti Djenar] lakukan hanyalah peniadaan diri. Sebab, memang hanya itulah satu-satunya jalan bagi manusia. Hanya Tuhan yang sungguh-sungguh ada! Maka, jalan agar tak palsu, agar sejati, ialah meniada, bergabung kepada satu-satunya yang ada. Itulah tauhid.”

Rupanya adu ego [Siapa yang berhak nampang di ruang ini/itu?] adalah intermezzo dari argumen yang sebenarnya, [Apapun yang lu omongin, ada ibadahnya apa kagak?]

=================

 “Empat hal tak pernah tercukupi : Gurun dari air, akal dari ilmu, mukmin dari amal saleh, wanita dari lelaki ” – Kyaine, di rumah.

Setahun di Aceh sebagai kacung LSM Internasional mengajari saya:

  1. Selemah apapun, manusia memiliki kapasitas untuk mencapai kebutuhannya. Hanya perlu distimulasi wawasannya.
  2. Stimulasi wawasan yang diinginkan umumnya manusia yang berhubungan dengan keserakahan.
  3. Manusia tak perlu distimulasi untuk jadi (lebih) serakah.

Duapuluh-tiga tahun di Saudi mengajari saya:

  1. Tuhan tidak menyangkut di mesjid maupun literatur agama. Tuhan ada di mana kita mencariNya.
  2. Semua agama bisa/pernah dipolitisasi untuk menggerakkan manusia.
  3. Tinggal dekat dengan kiblat dan makam Kanjeng Nabi tidak menjamin keimanan, kebaikan apalagi kebahagiaan.
  4. Hidup berkecukupan juga tidak menjamin kebahagiaan. Apalagi kedamaian.
  5. Takaran pangan di mana-mana sama : makan 3x sehari, 4 sehat 5 sempurna, tiap kali sepiring.
  6. Piramida Kebutuhan Maslow, tidak pernah menyebutkan jadi hartawan dalam perjalanan menuju aktualisasi diri.
  7. Perjalanan lebih penting dari tujuan. Karena perjalanan masih bisa diakali, sementara tujuan masih di sana.

Sebulan tinggal di Brebes mengajari saya:

  1. Tuhan ada di mana kita mencariNya.
  2. Hijrah adalah imigrasi lahir-batin, ke tempat di mana Tuhan lebih nampak.
  3. Menahan diri dari godaan juga terhitung ibadah.
  4. Takaran surga kita berlainan; ada yang hanya butuh rumah sepetak, ada yang puas dengan villa 3 kamar, ada lagi yang harus memiliki 3 istri, di 3 negara.
  5. Orang kaya, di semua agama, tidak masuk surga.

________________________
Artikel ini ditulis oleh : Alia Makki

20 thoughts on “15 Kepeng

  1. Padahal cita2ku kecil dimanja2, muda foya2, tua kaya raya, mati masuk surga. Eeehh … ternyata org kaya gak bisa msk surga … yo wis … lbh baik ikut sampeyan ke Brebes aja … nandur brambang ….

  2. alia, ada beberapa hal kuingat saat bersentuhan dengan pribadi ini:
    1. pertama kali langsung bertanya kepada guskar : hning itu siapa? karena diriku merasakan pribadi yang unik. guskar melempar lagi ke si nduk, dan meong pun juga diam.
    2. meong di sini, h[e]ning di asia. kenapa tidak dibalik saja. tenang di sini, bikin sensasi di dunia luar yang lebih luas.
    3. masalah yang sama denganku yang ingin anonim di jagat maya, namun ternyata zona pribadi makin lama makin terkikis seiring waktu yang mengabrasinya.
    4. saat gempa kemarin diriku ada di losari brebes/cirebon. dan aku mendapati wajah2 yang sama antara si kaya dan si miskin. kekhawatiran sekaligus kesemelehan akan hidup dan dihidupkan lagi.

    ps. aku melihat ada pejuang kemanusiaan selama satu tahun di aceh, meskipun ia lancang mengintip zona motivasi psikologis budaya orang-perorang di sana yang membuatnya tercengang.

  3. Kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari lingkaran dalam diri kita yang terdiri dari nafsu2, yang baik,setengah baik maupun yang tidak baik. Selain itu juga dipengaruhi oleh lingkaran luar, ada yang baik, setengah baik dan tidak baik. Jika di olahyudhakan maka akan menghasilkan keluaran sebagai hasil interaksi antara nafsu,pengaruh luar dan kemampuan mengelola oleh sang pemiliknya.

    Salam dari Surabaya

  4. cita2 saya spt mas bibit…kecil dimanja….muda foya2….tua kaya raya…mati masuk sorga…..siapa bilang orang kaya ndak masuk sorga? kalo ada yg bilang gitu dan benar adanya ntar cita2ku ndak terkabul…ugh sebel tenan…tapi berhubung saya ndak kaya maka saya dukung pendapat anda…qiqiqiqiqiqi…ndak jadi sebel deeeh….xixixixixixi

  5. Bukunya Kang Emha Ainun kadang terlalu ‘berat’ untuk saya baca.. meskipun demikian saya percaya akan pesan yang dibawa dalam buku2 beliau…

    Inilah manfaat luar biasa dari ‘ngeblog’..banyak mendapat pencerahan apalagi dari blog ini.. ( eh..ga ge er kan Kang Gus.. ? 🙂 )

    rumah baru.. makin oke aja…
    .-= ceuceusovi punya artikel menarik dengan judul ..Terlalu Lelah.. Terlalu Hepi ? =-.

  6. @bibit m, Iya, ya? Terlalu pro-Brebes. Tapi di sini bisa ngerjain yang lain kok. Ngaji, misalnya?

    @noersam, Masa sih?

    @genial & @Wandi thok, Tau dari mana? Bisa jadi “Siti Jenar” artikel pertama di buku Tidak, Jibril Tidak Pensiun adalah pertama kalinya saya baca CakNun.

    @~noe~, 2. Emang di sini bikin sensasi? 3. Ego menyebalkan. 4. Biasanya, kalau jarak antara yang miskin banget dengan yang kaya banget menyempit, kesemelehan juga lebih gampang. ps. ngomongin siapa ya? 🙂

    @Pakde, setuju.

    @m4stono, @zenteguh & @Julie,
    Hiperbola. Mestinya bilang: Orang kaya di agama Islam & Kristen, masuk surganya sesusah unta masuk lubang jarum.

    Di agama Buddha, inti dari Kesunyataan Mulia adalah “hidup adalah dukkha (sengsara), dukkha lahir dari ketergantungan pada kehidupan”. Keduniawian dan kesengsaraan satu paket.

    Setahu saya, di Taurat disebutkan bahwa salah satu faktor yang menghancurkan Fir’aun adalah kekayaannya yang berlebihan, sampai mengira dirinya adalah Tuhan.

    Ada lagi?

    Tapi tidak usah terlalu dipikirin, kaya atau miskin, masuk surga atau neraka kan urusan Tuhan? 😉

  7. Salam
    Hmm..tulisan-tulisan sampeyan sya suka, tapi agak susah mencernanya jd suka berpikir keras maklum kelemotan sudah melanda atau entah memang dari sananya plus wawasanku yang sangat biasa2 saja, well, hingga suka khawatir OOT komen, nah terbukti sekarang, bingung jhe..tapi yang jelas sya pensaran whos the real Hning , kenapa merasa ada krisis identitas, apa sudah capek bersembunyi..ayolah keluar saja, buatlah kami tak payah mengnalimu he..he….
    *piss akh…
    .-= nenyok punya artikel menarik dengan judul ..Tentang Cinta-Mu =-.

  8. Saya selalu suka membaca tulisan2 Guskar disini, walaupun kadang harus berkrenyit dulu utk bisa memahami isi dan inti sarinya.
    Setiap berkunjung saya selalu mendapat wawasan baru dr berbagai macam warna,
    karena saya jadi tambah memahami, betapa manusia selalu rela diperbudak oleh nafsunya sendiri
    yang jarang sekali merasa terpuaskan.
    terima kasih Gus, sudah berbagi.
    Salam.
    .-= bundadontworry punya artikel menarik dengan judul ..Warna sayur dan pengaruh mood. =-.

  9. makna dongengnya dalam banget “menyatu dengan yang satu satunya”…

    kalo saya, pembelajaran dimana mana adalah dimana tanah kau berpijak, disitu langit kau junjung. maklum sering pindah2 juga, tapi gak jelas arahnya he2

  10. Bila kita mau membuka hati buat Tuhan, maka Diapun akan dengan senang bersemayam.
    Apalah arti kekayaan materi dunia dibanding kekayaan Tuhan yang memiliki jagat raya ini.
    Kita sering diingatkan: shodaqoh tak kan membuat miskin.
    Kaya akan cinta kasih dari Sang Khalik semoga mengisi hari-hari kita.

Leave a Reply to Pakde Cholik Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s