Menari dan Marah

Marah yang merugikan (krodha) adalah emosi yang murah. Lahir dari ketakutan dan harga diri, ia pendek akal, panjang tangan, dan tolol. Sebaliknya, marah yang menguntungkan justru mendongkrak tumbuhkembang rohani, karena selalu ditujukan pada diri yang gagal belajar dari pengalaman hidupnya. [Sumber : Light on Yoga]

Di lain sisi, menari adalah ibadah Hindu, dan tari Pendet adalah Alfatiha-nya upacara dan selamat datang. Umumnya menari, seperti sembahyang, adalah bahasa tubuh yang transcendental (mengangkat derajat pelakunya): padat dengan emosi, erat dengan kekinian dan sangat lepas pamrih.

Sedihnya, tarian seindah, sesakral dan sehangat Pendet malah dikaitkan dengan marah ketika kita merasa dirampok negri jiran yang sekilas menampilkan gambar penari di iklan parawisata mereka. Hak intelektual dan budaya, berikut potensi dagang (i.e. urusan perut) diserobot orang.

Sekarang bagaimana caranya kemarahan ini menjadi pompa tumbuhkembang rohani kita?

Seandainya yang diklaim adalah teh Botol Sosro atau Indomie, sesuatu yang begitu mendarahdaging keIndonesiaannya, apa kita akan ramai begini? Seandainya yang diklaim adalah masjid Istiqlal atau Candi Borobudur, bukankah kita malah akan tertawa bersama seluruh dunia?

Mungkin juga, karena didera marah yang merugikan tadi, kita gagal mencatat notabene dari insiden “Penari Bali di Iklan Jiran” :

  • Keributan ini diramaikan penyandang predikat Bangsa Koruptor Peringkat “10 Besar” Dunia bangsa yang mayoritas penduduknya tak kenal arti istilah “hak cipta” maupun “gerakan anti-pembajakan”.
  • Semua yang merasa budayanya dirampok TIDAK BISA ngagem kiri, nyeledet, ngeseh dan ngelung – gerakan awal tari Pendet. Karena (mestinya) kalau memang benar-benar pemerhati tari Pendet, ia tidak akan semarah ini.

Sekitar duapuluh tahun yang lalu saya menari Pendet di residen konsul di Jeddah, untuk pembukaan Bazaar Indonesia. Tidak ada yang bisa mengukuhkan klaim saya ini karena baik guru tari maupun sanggarnya sudah lama mangkat, uang yang disisihkan untuk les menari sudah lunas, keringat waktu naik-turun metromini untuk bolak-balik ke tempat kursus saban hari juga sudah lama kering.

Tapi tarian itu, yang memantul dari cermin sanggar, yang masuk koran nasional di Saudi, yang dipelajari orang Jepang untuk mengisi acara budaya mereka, adalah yang kekal. Karena hidupmatinya sebuah budaya tergantung pada manusia yang bersedia menjaganya, maka tarian diakreditasi pakem, postur dan kelenturan penarinya. Bukan klaim. Atau iklan di TV. Atau lembaran hak paten.

Hari ini saya mau marah dengan lebih baik dengan dua pertanyaan ini :

  1. Siapkah saya menyisihkan uang dan tenaga dan waktu untuk memperdalam pengetahuan budaya sendiri?
  2. Sudah khatamkah sesi belanja perangkat bajakan saya?

_________________
Ditulis oleh : Alia Makki

32 thoughts on “Menari dan Marah

  1. bait pertama bikin diriku tercengang.
    di alenia ketiga dari akhir, diriku mengernyitkan dahi, dan langung scroll ke bawah. aih… benar ada meong di sini 🙂

    alia, substansi artikel dalam kalimat yang dibold itu, cerminan dari harapan kebersahajaan kita selama ini. namun di tengah pragmatisme dunia ini, apakah idealisme itu masih bisa bertahan? diriku kok pesimis ya. dengan apa yang berlaku selama ini, tentang perjalanan waktu yang menyeret budaya luhur di belakangnya hingga tertatih-tatih hingga tercerai berai.
    semua berangkat dari akhir, dan terlalu lama jika kita harus kembali lagi berproses sesuai prosedur 😐

    ini artikel yang dalam tentang mawas diri untuk tindakan preventif. bertolak belakang dengan ‘artikel jagoan’ sebagai tindakan represif dan waton ngomyang 🙂

    nuwun sewu mau baca artikel jagoan itu lagi 🙂
    kamsia ya, gus…

  2. wah otokritik yang muantaps …
    benar-benar sang pemikir yang peka dengan realitas kekinian…
    2 jompol diatjungkan … 😀

    Subhaanallaahi wabihamdihi Subhaanallaahil ‘adhiim…

    Salam Ramadhan Al Mubarok 1430 H
    Salam Hangat Selalu dari AbulaMedia.com

  3. Bahan introspeksi yang menarik.
    Selama ini budaya yang saya pahami dan melekat mungkin terlalu sempit dan sektoral, seperti halnya saya lebih dekat ke budaya sunda dan jawa. Namun ketika mendengar budaya lain yang masih termasuk bagian dari budaya negeri ini terusik maka saya pun lebih merasa ikut memilikinya dan ikut terusik pula. Apalagi beberapa waktu terakhir ini ada kegemesan atas keangkuhan Malingsia (ikut istilah Mas Wandi)sehingga saya ikut melist kembali produk yang saya gunakan sebagai konsekuensi dari kegemesan saya. Mengikuti cara simple yang Kang Noe sampaikan di artikelnya.
    Mungkin itu sedikit pemahaman saya, mohon koreksinya jika keliru memahami.

  4. Saya nggak bisa menari Pendet. Tepatnya, saya nggak bisa menari adat apapun.

    Saya bertanya-tanya apakah kemarahan kita karena Pendet diakui budaya orang lain itu, sah padahal kita tidak bisa melakukan tarian itu sendiri.

    Mudah-mudahan setelah ini akan tergerak di pikiran orang lain buat belajar menari Pendet. Siapa yang mau menyelamatkan budaya kita kalau bukan kita sendiri yang melakukannya?

  5. duh… rasa tertampar nih…
    saya geram dengan sikap malaysia yang mengklaim budaya negara kita, tapi di sisi lain, saya kerap membeli cd bajakan…

    argh… kemarahan ini untuk diri saya sendiri…

  6. Salam
    Entahlah, saya merasa biasa-biasa aja, mksdnya ya ga perlu jg lah diributkan, selesaikan saja baik2 soal kepemilikan seperti itu, yang marah tak karuan malah terkesan sok nasionalis pdhl klo ga ad aksi begitu apa mereka juga peduli soal ini, apa sih yang ingin ditunjukkan, ini bukan membela sapa-sapa, tp yang jelas saya jg merasa geli dgn negeri jiran itu, apa juga yang ada di pikiran mereka, apa kurang kerjaan, kurang kreatif atau cari sensasi atau pengalihan sesuatu. dagelan aneh begini rasanya ga perlu didramatisir kali ya 😉

  7. suka sekali tulisan ini, ada pepatah bali yang mungkin cocok dengan situasi ini “depang anake ngadanin” yang arti atau maknanya kurang lebih “biarlah orang lain yang menilai”, maksud saya biarlah dunia yang menilai tari pendet itu darimana, kita tidak perlu terlalu ribut tetapi lebih pada introspeksi diri.

    maaf kepanjangan 😀

  8. Gus, dalam hal ini, saya hampir2 tak menemukan alasan bagi saya untuk marah. saya cinta negeri, lahir dan hidup di negeri ini. tapi entah kenapa saya hampir2 ga peduli tentang pendet.
    salah ya?
    apalagi ketika Gus menulis ‘menari adalah ibadah Hindu, dan tari Pendet adalah Alfatiha-nya upacara dan selamat datang.’ lha bagaimana mungkin saya marah?

  9. Dan sebutan Malingsia itu sesungguhnya bentuk kemarahan yang luar biasa sporadis. Karena maling itu sesungguhnya ya orang-orang kita sendiri yang tak sadar telah memiliki harta karun demikian eloknya.

  10. Bila kita merasa satu nusa satu bangsa satu bahasa, apakah ketika bagian saudara kita yg jauh terkena musibah kita malah mensyukuri atau sebodo amat? dimana letak nasionalisme kita ketika aceh dihantam tsunami dan bantuan ikhlas jadi seonggok bangkai?
    Rasanya memprihatinkan ketika sesama manusia saling berebut.
    Semoga kita semua dapat melalui masa ini dengan kearifan.

  11. Indonesia dan Malaysia itu kan kan serumpun dan juga sama2 sebagai pendiri Asean.Banyak forum2 kerjasama yang kita buat secara bilateral dengan Malaysia.Sayapun pernah ikut duduk dalam salah satu forum.
    Seharusnya memang kita hidup berdampingan secara damai. Namun kita juga tidak bisa melupakan konfrontasi dengan Malaysia tahun 1960 an.
    So, kita serahkan saja kepada pemerintah dan aparat terkait dalam mengatasi masalah ini.
    Di level bawah memang sering ada gontok-gontokan. Sopir taxi di Kuala Lumpur menyebut Indonesia dengan Indon, dan itu sudah kita ketahui. Kitapun juga memelesetkan nama Malaysia sesuka hati kita bukan.

    Sayapun tetap menganggap bahwa udeng,blangkon,beskap adalah milik Indonesia sejak dulu kala.
    Masa kita mantu blangkonnya mau diganti helm, kan nggak mungkin, bisa pusing kan kepala.

    Salam hangat dari Surabaya

  12. Wah, jatah kondangan baru Gus, selametan, potong tumpeng buat dot com nya yang baru ini 😀

    Miris, bahkan tari pendet pun saya tidak mengingatnya kalau di indonesia ada. Rasanya seperti merasa tersindir, dan ketika harus bicara tentang tari pendet yang diklaim oleh tetangga sementara saya tidak tahu apa2. Bagaimana kalau misalnya saya ditanya,
    “Lho, iya po kalau ini milikmu?”
    “Tahu apa kamu tentang tari pendet?”
    “Bener ini tari pendetmu?”
    dan pertanyaan2 lain yang tidak bisa saya jawab?

  13. @~Noe,
    Alenia ketiga dari terakhir? :>
    Kapan & dimana saya baca, seandainya waktu itu ada “cukup banyak” orang baik di Sodom & Gomorrah, maka Tuhan tidak akan semarah itu. Mungkin, kiamat belum dibangkitkan sampai hari ini karena masih ada orang baik yang sembahyang, menari, mendoakan keselamatan.

    Idealisme, pesimisme, norakisme, morotinisme, sekedar pilihan. Perubahan mentalitas hanya bisa dimulai dari diri sendiri – diri yang mengharapkan perubahan itu maupun yang tidak peduli akan keteratihannya.

    Bahwa masih ada kelompok yang saling mengingatkan akan pilihan-pilihan yang lebih baik, sudah cukup bukti bahwa orang baik di sekitar kita masih banyak. Amin.

    @AliSastro,
    *ketawa baca komentar Abula dibawah komentar awakmu*
    Masa hanya karena seperlima penduduk bumi puasa & semi-ketenangan global terjadi, orang media jadinya tidak bisa memerah THR?

    PS: Apa kabarnya dunia kerja Anda? 🙂

    @Abula,
    Terima kasih, salam hangat kembali.

    @Vicky,
    Iya toh, mbak. Kadang-kadang kalau udah mau hilang, baru kita merasa kehilangan.

    @nenyok,
    Paling tidak sensasi, tabloid, dramatisasi sedap buat temen ngabuburit, kang.

    @Vyan RH
    Aceh? Terakhir kali saya ke Meulaboh, Banda & Sigli, semuanya baik-baik saja, berkat nasionalisme yang tak berubah jadi bangkai. Atau mungkin Anda tidak kebagian jatah rebutan?

    @Mastono,
    Minjem beda ya dengan nyolong? Dosanya juga sekedar dirental thok. Hihi..

    @Pakde Cholik,
    Kepercayaan Anda kepada pemerintah & aparat terkait, berlawanan dengan sinisme Anda terhadap rakyat bawah, memesona saya.

    @Vizon, @Julie, @zulhaq, @jayrima, @zenteguh
    Terima kasih atas komentarnya. 😀

    Salam hangat dari Brebes.

  14. @~noe~
    Saya konflik, mau ngopi paste komentar apa cengar-cengir aja dari sini.

    @arkasala,
    Sudah melist produk bajakan juga, belum? 🙂

    @bagus tejo pramono,
    amin.

    @nakjaDimande,
    Hohoho. Kembali kasih:D

    @Rigih,
    Tidak peduli tariannya apa sensasi media seputarnya?

    @alamendah,
    Pramoedya pernah nulis, (para-frasanya) kalau iya sampean nasionalis, sudah pernah kemana aja di Indonesia? Jujur, saya baru tahu ada pulau yang namanya Makaroni, waktu pulau itu digosipkan pindah tangan.

    Sementara itu, kalau sedang nyasar ke pedalaman (Penebel atau Suak Ribee, misalnya), saya suka mikir, “Tempat ini juga termasuk Indonesia? Seluas inikah negri ini? Masih belum apa-apa.” Bingung mau bangga atau sedih saat mengakui kerdilnya pengertian saya akan negri ini.

    @pushandaka,
    Terima kasih & salam kenal juga.

    @DenMas,
    Ingatnya apa dong, mas? Yang masih ingat itu yang jadi tanggung jawab panjenengan, walaupun se-ayat.

  15. aduh, baca yang nomor dua , saya jadi malu neh soalnya software2 saya juga kebanyakan bajakan semua. yang ga bajakan berarti emang yang free edition :p

  16. Memang begitu gus…

    Bangsa kita yang begitu kaya akan budaya membuat “ngiler” bangsa-bangsa lain, terutama negeri tetangga itu. Konon katanya, semakin tinggi peradaban suatu bangsa, penghayatan dan pernghargaan akan budaya akan semakin tinggi. Itulah yang mungkin dibidik oleh negeri tetangga.

    Indonesia yang begitu kaya akan budaya, ndak mampu “menjual” budaya-nya secara profesional. Saking banyakya budaya yang kita punya, kita jadi bingung sendiri mau “jual” yang mana… Nah, kalo negeri tetangga yang miskin budaya, mengambil untung dari budaya kita…

    Kita boleh-boleh saja ikut marah karena budaya kita diklaim orang, namun yang lebih penting “semangat marah” itu juga mestinya diwujudkan dalam bentuk semangat untuk mengapresiasi dan menjaga budaya warisan leluhur kita…

    Salam Gus… 🙂

  17. Selamat sore Guskar, Formulasi kebijakan lazimnya diawali dengan identifikasi isu kebijakkan. Isu kebijakkan di bidang Pariwisata dan budaya belum lagi tegas karena kita tidak pernah mendaftarkan klaim tentang hal tsb, hal tsb berdampak pada dinamika interaksi sosial politik dan budaya negara yang bertetangga serta kelembagaan yang melibatkan unsur stakeholder yang terkait dengan substansi permasalahan yang dihadapi, dan semua itu tidak lepas dari dinamika dan kompleksitas perkembangan budaya yang juga menghadapkan berbagai permasalahan publik yang dinamis dan beragam serta sama-sama memerlukan perhatian. Terima kasih Postingannya, Sukses untuk Guskar.

    Regards, agnes sekar

  18. budaya adalah apa yang telah ada sejak lama, menjadi adat dan kebiasaan masyarakat, kalau ada yang mengakui budaya kita, apakah memang benar-benar budaya tersebut telah ada sejak lama dan sudah mendarah daging menjadi kebiasaan??

    salam untuk anda yang sedang manunaikan tugas yang mulia

  19. mungkin insiden ini bagus juga utk menyentil kita agar lebih aware dgn kebudayaan asli milik sendiri,
    masih banyak sebenarnya yg tdk peduli, apalagi rakyat kecil yg penting dapat makan dulu hari ini, nggak sempat mikir2 yg beginian.
    untuk yg merasa mengerti langsung mencak2 lantas mengata2i negeri jiran.
    sementara yg seharusnya mengurusi,kok ya lama banget reaksinya,
    wah, bingung………bingung………….
    Salam.

  20. Pingback: UNDIP PUN IKUT BERTINDAK | arkasala(dot)com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s