Bahasa Manusia

Katanya manusia diberi kelebihan berbahasa. Katanya hanya manusia yang manyadari konsep waktu, kewujudan, asal, kematian. Tapi dengan banyaknya kata-kata, kenapa kemanusiawian malah semakin tertutup kelambu kepentingan?

“Saya…”

Monolog.
Gosip.
Perintah.
Fitnah.
Laporan.

Bising adalah resiko hidup dalam kepentingan. Sulitnya menemukan teman yang mau mendengar adalah alasan mendasar kenapa percakapan kita bising, bertalu-talu dan saling tiban. Tak ayal menyadari, saat kesempatan untuk bicara datang, setiap kalimat harus padat dengan segala kepentingan, sesingkat mungkin, sepenting-pentingnya.

Sebaliknya, resiko inheren dari hidup dalam pengasingan, sekaligus keuntungan tambahan darinya, adalah hilangnya kepentingan. Tapi sekuat apa kita menerima bahwa kita adalah manusia tak penting, yang hidupnya dilupakan, dan matinya tak ditangisi.

Makanya kita tetap bicara, biarpun bising, agar tetap dianggap penting.

“Para hadirin…”

Mengajar.
Ceramah.
Khotbah.
Pidato.
Doa.

Semakin banyak telinga yang dituju, semakin generik pula bahasa yang kita gunakan, semakin formal, kaku dan umum. Nyaris hilang individu yang berbicara di balik kemegahan bahasanya. Resiko inheren dari memukau massa, bukan?

Makanya mereka bicara, biarpun bising, agar tetap dianggap penting.

“Sayang…”

Di lain sisi, bahkan percakapan intim semakin generik dan hambar. Apa yang dibicarakan suami istri sebelum tidur? Apa yang dibisikkan orangtua ke anak mereka saat berpisah? Apa yang dipertukarkan para kekasih sebelum menutup percakapan larut malam?

“Take care. I love you. Good night.”

[Bahkan padanannya dalam bahasa sendiri saja tidak ada, karena terasa kaku dan tak wajar. Mungkin bahasa Indonesia adalah bahasa yang tak mengizinkan emosi menjadi generik, menjaga kesakralan emosional antara manusia.]

Apa mengulang kalimat di atas, saban pagi & malam, saban bertemu & berantem, tetap penting?

“PRIIIIT!!”

Ada kalimat yang diucapkan dalam bahasa apapun tetap memberi dampak emosionil yang sama. Kalimat yang diucapkan saat jengah di awal pertemuan, saat setan atau malaikat lewat, saat hening tiba di mobil dalam perjalanan panjang ke sana, lalu pulang.

“??? ??? – Tell us a story – Cerita dong.”

Saat itu, bahasa pun kembali manusiawi, individu kembali didengar massa, formalitas berpadupadan dengan bahasa sehari-hari.
Tanpa beban,
tanpa rikuh,
atau pamrih kesan.

“??? ?? ???? – Once upon a time – Alkisah, nun jauh di sana…”

Berceritalah, karena dalam dongeng ada kepentingan kita semua.

—————————
Catatankaki :
Bagaimana tidak pluralis, wong dalam semua bahasa, akhir cerita kita sama.

 Artikel ini ditulis oleh Alia Makki

19 thoughts on “Bahasa Manusia

  1. oalah artikel tamu to…kirain guskar nulis sendiri…kok tumben bahasanya serius…qiqiqiq…yo wis tak tanggapi…

    tentu saja tiap daerah didunia ini punya kearifan bahasa yg berbeda-beda, kalau misalnya di inggris ngomong you ama yg lebih tua itu sopan2 aja, tapi kalau di jawa ngomong kowe sama simbah bisa dijewer, kecuali kalau didesa kluthuk yang kadang penerapan bahasa masih campur aduk…misalnya “ayamipun didhahari” yg artinya “ayamnya dikasih makan” tentu ini tdk pas…pdanan kata yg pas di inggris “take care” kalo diindonesiakan jadi “ambil rawat” (bener gak sih?)…jadi gak pas…..kalau bahasa jawanya “kita” adalah “kulo panjenengan sami” tentu ini kepanjangan…walaupun ada yg menyingkat juga jadi “kito”….

  2. Sepertinya hanya bahasa manusia yg bernama bayi sajalah yang terdengar paling aneh, paling manis, paling lucu dan menggemaskan juga paling menarik perhatian.
    NAmun tetap dimengerti maknanya oleh siapa saja.
    tanpa tendensi apapun.
    Salam.

  3. Pergaulan hidup yang kiat tak ramah membuat nilai-nilai keteladanan semakin ditinggalkan orang. Penggunaan bahasapun semakin tidak sebagaimanamestinya. Hal tsb butuh perhatian dan semangat yang sungguh-sungguh untuk mengubah keadaan yang kian tak ramah ini. Hidup yang baik dan berkualitas menjadi dambaan setiap orang, tetapi kita tau tidak mudah mendapatkannya. Selalu menjaga sikap dan perilaku kita, mampu menempatkan diri,ditengah-tengah masyarakat, ringan tangan dan berprasangka baik kepada orang lain adalah sebagain dari karakter keteladanan tsb. Terima kasih tulisannya.

    Regards, agnes sekar

  4. benar Alia, aku baru paham.. dalam semua bahasa, cerita kita berakhir sama.. dongeng cinta pun menceritakan hal yang sama.. karena semua kisah cinta sungguh tak berbeda. dan aku tak perlu mengerutkan kening memahami bahasamu.. karena bahasa hati hanya bisa dipahami oleh hati..

  5. Yang paling pintar dalam berbahasa(gombal) itu adalah kaumnya kakek adam. suka sih..hhh, namun kadang itu adalah ranjau darat, laut udara.
    maaf kalo out off topic coment nya, nyambung ga nyambung yang pentin kunjungi dan kasi pendapat, hihihi 😛

  6. Dalam bahasa yang paling dalam.. tidak akan terasa bedanya siapa yang bicara siapa yang mendengar..
    Semua terasa menyatu, karena yang berbicara akan mendengar, dan yang mendengar juga merasa ikut berbicara..
    Suatu hal yang cukup jarang saya rasakan di tengah bisingnya kehidupan, tuntutan deadline, dan hiruk-pikuk lainnya…

  7. Bahasa adalah ekspresi jiwa dimana dia dapat meluapkannya tanpa harus memendamnya sebagai sampah yang tak terbuang. KIta diciptakan dalam kondisi sempurna, mempunyai bahasa yang lebih baik dari makhluk lainnya. Bahsa tubuh, mimik, bahasa ucap…Bersyukurlah kita pada NYA

    salam kenal. mampir ke blog kami

  8. Ketika pak Lurahku diminta pidato, nggak mau, blangkemen. Mengapa ? Karena dia nggak mau menggunakan bahasanya sendiri, bahasa yang dipakai dalam kehidupannya sendiri ketika berbicara dengan anaknya.
    Belum-belum sudah membayangkan sosok Bung Karno, Sby dan orang-orang penting lainnya.
    Pak Lurah, pakai saja bahasamu sendiri, nggak usah meniru gaya dan suara Bung Karno atau siapapun, agar tak blangkemen.

    Salam hangat untuk mbak Alia makki dan Guskar

  9. Salam
    Saya lebih suka bahasa hati, tanpa banyak kata namun hati mampu merasa, dianggap penting tak penting buatku tak terlalu penting, karena merasa penting atau tak penting kadang hanya persangkaan atau kesan saja. *halah apa coba, nyambung ga ya* 🙂
    Semangat!!!

  10. Berbahasa, berujar, bertutur itu persamaan kata dalam teka-teki silang.. 🙂
    Selama manusia masih bisa berbicara dengan manusia, layaklah itu menjadi pembicaraan mereka. Apapun, siapapun, dimanapun, bagaimanapun, walaupun dan segala pun. Mungkin kecuali Master Limbad: “(-)”.
    Alia terima kasih artikelnya.
    GusKar, terima kasih bebek gorengnya .. 🙂 🙂

  11. semoga dengan permintaan maaf ini allah swt menyempurnakan puasa kita, membersihan hati kita dan membuat hidup kita jauh lebih baik dengan ketenangan jiwa dan keikhlasan hati dan menjadikan kita penghuni surganya…amiien ! thanks

  12. Sebenernya dari pertama sampai pertengahan, masih bertanya-tanya, ending dari artikel ini. Pas sampai ‘ahki lana’, mulai ada pencerahan, tapi masih belum bisa berkesimpulan bahwa itu adalah point of interest dari artikel ini. Pas sampai bawah lagi, ‘kaana bi imkaanin‘, ternyata saya harus kembali ke ‘ahki lana‘, dan mencoba memahami dan hanya mendapatkan secuil yang semoga tidak salah, bahwa yang penting, itu tidak harus dan hanya kita sendiri. Matur suwun sudah diingatkan, semoga ramadhan kali ini, bisa menjadikan kita orang yang sanggup untuk mengucapkan ‘ahki lana‘ dan bisa mendengarkan ‘kaana bi imkaanin‘ dengan lebih baik. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s