Guru Ngaji dan Warisannya

Tahu tidak, berapa gaji seorang guru ngaji di desa?

Seorang guru mengaji datang ke Kyai, “Gaji kulo sebulan empat puluh ribu.”

Untuk ilustrasi – bukan mengumpan kasihan –  pak Guru bercerita tentang celananya yang semata wayang. Celana itu selalu bau dan lepek karena hanya dijemur antara jam mengajar. Pak Guru bukannya jorok, tapi kebersihan celananya kalah penting dibanding anak dan istri yang harus makan. Sabun mahal.

Pak Kyai menyela, “Jadi, sampeyan maunya bagaimana?”

“Mohon restunya, Pak Kyai, kulo mau merantau ke Jakarta, jadi tukang ojek.” 

“Setelah jadi tukang ojek, apa lalu akan menjadi kaya? Bukan cuma sampeyan saja yang akan tetap miskin, tapi juga semua anak yang mengikuti contoh gurunya.”

Pak Guru diam. Harapannya hangus, hatinya kecewa, dan idealisme Kyai ini menyebalkan.

“Pulanglah” kata Kyai, “jangan berkecil hati, dan yakini ilmu yang sampeyan ajarkan. Kekayaan duniawi takkan berarti tanpa tabungan yang cukup untuk akhirat.”

Mungkin saat itu pak Guru merutuk dalam hati, “Gimana mau memikirkan akhirat, wong bertahan hidup saja susah.”

Beberapa bulan kemudian, pak Guru kembali. Katanya, “Alhamdulillah, pak Kyai, mertua saya meninggal.”

“Mertua meninggal kok disyukuri?”

“Bukannya mensyukuri mertua meninggal, tapi warisannya. Kulo kebagian sawah setengah bahu.”

Kata Kyai, “Untung sampeyan tidak jadi mengojek kan? Bisa-bisa mertua sampeyan tidak jadi meninggal.”

Mungkin pak Guru sadar, bahwa semiskin apapun hidupnya, akhirat tak bisa dikesampingkan. Siapa tahu besok…

by Hning

20 thoughts on “Guru Ngaji dan Warisannya

  1. agak agak sufi…
    sik sik
    merenung disit. belum nangkep hubungan antara jadi tukang ojek atau tidak dengan kematian mertuanya. otak kiriku masih terlalu dominan 😦
    btw, Hning itu sapa je, gus
    mo komen di blognya tapi ndak ngerti bahasanya 😀

  2. thewaskitas: enak bacanya, enak nulisnya, enak nyeritainnya lagi, dan lagi…Mau lagi? 😀

    @GusKar: Kok lebih kocak di sini ya daripada waktu masih komputer sendiri?
    Untuuuung ada yang ngeditin sebelum diposting. 🙂

    ~noe~: 😉 *kerjap2 kecentilan khas janda paruh baya*

  3. Kehidupan guru ngaji di desa memmang memprihatinkan jika hanya dilihat dari sisi ekonomi yang hanya mengandalkan makan dari mulang ngaji itu. Namun mereka kan tidak hanya menjadi guru ngaji. Di kampung, mereka juga nyambi sebagai petani, pedagang, pengusaha kecil dsb. Mereka menjadi guru ngaji pada umumnya karena MEMENUHI PANGGILAN JIWA.Ingin membangun akhlak anak-anak dan memberi pencerahan ajaran agama Islam.
    Di Kabupaten Brebes, para guru ngaji, baik di masjid maupun di Madrasah Diniyah setiap tahun mendapatkan tunjangan dari Bupati/Pemda. Besarnya bisa mencapai Rp 2.500.000 per madrasah. Penerimaan tunjangan itu biasanya pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ini menunjukkan betapa besar perhatian pemda Brebes terhadap pengembangan akhlak warganya melalui pemberian tunjangan kepada para ustadz/ ustadzah di seluruh wilayang Kabupaten Brebes.

  4. kang guskar, gimana caranya kirimin artikel ketempat blogmu? ada persyaratan? :mrgreen:

    btw, gajiku sbg instruktur honorer juga dibayar setengah dari gaji si kiyai 😀 , jadi aku harus tetap bersabar dg pekerjaan saat ini?

  5. hehehe.. dunia ini panggung sandiwara.. sayang udah ngontrak masih pada ngaco.. harusnya bagi bagi tempat yaaa.. ooo.. OOT.. :mrgreen:

  6. @Acha, Saya jadi ikutan ngenes. Semoga Anda mengamalkan ilmunya dengan baik, agar warisan beliau tidak terputus.

    @BundaJanganKuatir, Terima kasih, bunda.

    @Denologis, Mestinya kyai di cerita ini bilang begitu ya? Lucu!

    @ircham, Semoga beliau cepat pulang.

    @Sutikno, Cerita rakyat ini asalnya dari Brebes, Kang, tapi seperti kata Anda, mau nyambi jadi apa saja asal panggilan jiwa dijawab dengan “Labbaik”, InsyAllah berkah, ya?

    @masbadar, @AfwanAuliyar, @Jidat, @Achoey, Amin.

    @Huang, Syarat kedua untuk menulis artikel tamu: kudu ikutan karnaval blog bermutu [Hning becanda, tapi setengah serius]. Gaji Anda duapuluh ribu perBULAN? Tapi soal pekerjaan saya biasanya memakai patokan “kepuasan bathin”. Kata KanjengNabi, harta yang sedikit tapi mencukupi lebih baik daripada yang banyak tapi bikin bingung. Patokan kepuasan Anda apa?

    @tukangobatbersahaja, Ini hipotesa, bagi guru teladan penghargaan sejati ada pada murid yang mengamalkan ilmunya. Setahu saya, ilmu yang diwariskan seperti kaki-tangan MLM, bunganya besar dan berlanjut selama masih ada yang mengamalkan.

    @KangBoed, OOT juga.

  7. Bener mas Untung Sutikno … yg ditulis GusKar itu sering kulihat setiap saat. Mertuaku juga ngurus madrasah sama guru sejawatnya … mengajar anak2 ngaji. Jangan tanya soal gaji … bener2 menyedihkan. Mereka rata2 sambil bertani/buruh tani, bahkan ada yg terpaksa “ngojek” di makam (membantu baca doa). Kadang aku membantu … tp tak seberapa, sdh mampu menghidupi anak-istri sendiri saja sdh bagus! Doakan amal usaha mereka diridloi Allah … aaamiin.

  8. Patokan kepuasan saya sekarang hasil karya saya bisa masuk ke pameran dan dihargai sama orang 🙂

    btw, itu bukan perbulan, tapi per-pertemuan.

  9. Iya gus, pak kiyai yag gajinya kecil aja gak banyak protes. Eh, guru yang gajinya jutaan malah sering minta kenaikan gaji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s