Memilih Saksi

“(The pen) was still in perfect order, and why wouldn’t it? Given the credit to the owner and the sentiments which the pen expressed.” ~ oleh Virginia Woolf, dari Mrs. Dalloway

Kita membekas di benda. Semakin terkikis kebaruannya, semakin menyerap pula diri kita ke dalamnya, semakin bias pula eksistensi kita, merembes ke dalam benda, menjadikan hidup – cukup hidup untuk mampu bersaksi. 

‘Ntar dulu, masa benda mati bisa bersaksi?

Matikah benda-benda yang kita gunakan? Patutkah baju yang menempel di badan untuk disebut benda hidup?

Setelah seharian menyerap kenangan dari dalam (keringat, aroma tubuh) dan dari luar (lingkungan kerja, sandaran mobil), cerca kain yang menempel pada tubuh pun menjadi hidup dengan jejak langkah sepanjang hari.  

Sampai-sampai, para kekasih hati meredam rindu (atau memastikan curiga) dengan menenggelamkan wajah mereka di situ, untuk menghirup dalam-dalam, untuk bercengkerama dengan lipatan rahasia yang tersimpul di antara serat kain pakaian kita 

Sebaliknya, benda pun membekas pada tubuh.

Ratusan pena telah menabalkan ruas pertama di jari tengah tangan kananku, memencongkan jari telunjukku. Ibuku kulitnya halus, tapi dibaluri gerutan selulit karena dipaksa memuat dan memeras keluar tiga orang anak. Tukang becak, serenta apapun, akan memamerkan betis dan perutnya Brad Pitt di Fight Club.

Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Ternyata hidup tidak bisa disterilkan dari alam dan kenangan. Semakin larut, semakin jelas pula bekas keduanya di badan, menggugah hati dengan ketekunan yang menata ulang proporsionalitas tubuh dan arti dari kata sexy.

Tanda-tanda ketekunan yang kita angkut setiap hari, adalah saksi hidup dan pengakuan valid yang tidak butuh sertifikat maupun tafsir. Seakan hidup ini merupakan barter dengan benda dan alam: terimalah hasil keringatku, kuterima bekasmu pada tubuhku.

Sampai suatu saat nanti, ketika batas-batas itu hilang sama sekali: tubuh kita menjadi bagian dari bumi, dan bumi menelan kembali semua bekas yang ia tinggalkan pada tubuh kita.

Bulat-bulat. Ke dalam rahimnya. Ke dalam ranjang rahasia paling sempurna.

Kita bisa bangga dengan yang bekas bagus, malu dengan yang jelek, tapi sebelum bekas-bekas itu terbentuk, kita masih bisa memilih mana yang patut ditekuni dan mana yang tidak.

Maka buatlah pilihanmu berdasarkan jawaban dari 2 pertanyaan ini:

  1. Bagaimana mau berharap bumi akan menerima kita dengan baik jika perlakuan kita padanya semena-mena?
  2. Mau ditaruh ke mana muka kita, saat kita kembali ke perut Bumi, jika selama ini kita hidup tanpa pengertian atas bekas-bekas di tubuh kita?

Karena suka atau tidak, dengan gaya apapun prosesi penguburan/kremasimu, akhirnya semua – juga pena, pikiran dan pacarmu – akan kembali ke perut bumi, dan bersaksi kepada yang Maha Kekal WajahNya (QS. 55:27), atas perjalananmu di mukanya.

Semoga saja kesaksian mereka sejalan dengan jurusan tiket perjalananmu ke alam berikutnya.

_________________________________________________________________________________

PS: Mungkin alam cuma memiliki dua dimensi; antara hidup dan mati, dan area kelabu itu sekedar penghiburan kita akan apa yang tidak jadi-jadi.
                                                                                                                                      

Artikel ini ditulis oleh  Hning

13 thoughts on “Memilih Saksi

  1. “Kehidupan ini memiliki aturannya sendiri, dan tampaknya ia sangat serius untuk memaksa kita menghormati aturan-aturan itu. Dia menolak untuk menjadikan dirinya sebuah kehidupan yang baru bagi kita, bila kita tidak memperbaharui sikap dan cara-cara kita.”

    Ini sms yang masih saya simpan dari temenku. Setidaknya manfaatin waktu yang masih ada selama kita hidup mas 🙂

    Maaf aku baru bisa blogwalking mas 🙂
    btw ada YM gak mas?

  2. kita tidak bisa mengelak dari keterangan para saksi. menyanggahnya pun akan sia-sia belaka. waspadai si saksi kunci : amal perbuatan!

  3. Salam
    Untaian kata yang indah dan menyentuh, sejatinya kenangan atau apapaun yang meninggalkan bekas, maka didunia ini masih punya celah untuk tak berbekas dengan amnesia 😀 namun Tuan benar di keabadian sana tak ada yang tersisa, tak tersembunyi, tak ada rahasia 🙂

  4. tulisannya indah
    tapi isinya seram
    cukup menyentuh batinku sepersekian detik, untuk kemudian kutepiskan dengan berbagai alasan…
    uarrggghhh…

  5. @Huang – Mas Agus, ada yang nanyain tuh!

    @senoaji – Masa sih satir? 😉 Tapi, emang iya juga sih. Hehe.

    @Ratri – Betul. Selamat memilih saksi.

    @achoey – *ngulurin tisu* Apa lebih baik melata saja? 🙂 Senang ya, bisa kembali ke bumi.

    @Antown – -_- Zzz

    @nenyok – Terima kasih atas pujiannya, juga argumentasinya. 😀

    @~noe~ – *jingkat-jingkat dari belakang, lalu bergumam dengan suara berat bergema* Aku kenanganmuuuuu..datang untuk menghantuimuuuu..jangan sampai kau tolak dirikuuu…

  6. @masnoer – Oh, kita sadar, sadar sesadar berita dan kematian. Tapi banyak dari kita yang mungkin belum mengerti. Atau memaling dari pengertian itu.

    @muhamazer – “kebas noda”? apa perlu? apa bisa? dibanding menekuni cipta? dibanding menjaga apa indah? 🙂

    @semua yang sudah datang dan yang akan menyusul – Terima kasih atas komentarnya. Semoga berguna.

  7. Radio butut di sampingku … adalah saksi bahwa (alm) ayahku pernah ada bersamanya (radio kok brita mlulu … -pengin lagu jgn setel Elshinta, Bung!-).
    Dan malam ini (27/05) org2 jd saksi, siapa lebih jawara … MU apa Barca?! Rela besok kesiangan ngantor … (kali t’masuk GusKar??)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s