Iklan Pendidikan Melecehkan Kecerdasan

Bukan hal baru jika terlalu lama menonton TV lokal dapat menyebabkan dua jenis penyakit : Kebebalan Mental atau Demam Protes Intelek. Penyakit saya kambuh lagi beberapa hari ini karena sebuah iklan layanan masyarakat dari Departemen Pendidikan Nasional.

Mungkin Anda pernah melihatnya di TV: Sebuah iklan pendidikan yang isinya dialog antara supir angkot dengan wanita berlogat Belitung. Supir Angkot mempertanyakan manfaat pendidikan formal yang tak lagi menjamin masa depan. Di sebelahnya, wanita berlogat Belitung itu melantur ngawur menjawab, “Biar bapaknya supir angkot, anaknya bisa jadi pilot. Biar bapaknya loper koran, anaknya bisa jadi wartawan”.

Wahai para intelek dan penyadar sosial, apakah begitu memalukan kerja sebagai loper koran atau menyetir angkot? Begitu muliakah semua wartawan dan pilot pesawat?

Saya tidak tahu statistik keselamatan menyetir angkot dibanding pesawat, apalagi tingkat kemuliaan loper koran dibanding wartawan, tapi apa perbandingan antar-jabatan yang ditampilkan DepDikNas patut dan pantas?

Oke, katakanlah pesan yang disampaikan iklan tersebut adalah bahwa dengan bersekolah derajat seseorang bisa setinggi pesawat. Fine; tapi apa pesan itu perlu disampaikan sambil melecehkan bapaknya si calon pilot yang sehari-hari keringetan di balik setir angkot?

Oke lagi, katakanlah kerja dalam angkot cenderung bau dan panas (dibanding dalam pesawat yang ber-AC), juga kotor karena bermuara pada uang pasar nan dekil (dibanding gaji bersih pilot dalam bentuk transfer mulus ke dalam rekeningnya, tanpa banyak cincong maupun tawar-menawar, asal selalu bisa mendarat dengan selamat).

 [Tentunya tanpa menambah ribet pikiran dengan adanya tiga-ribu staff Anu Air dan keluarga korban kejatuhannya saat membandingkan enak dan amannya kerja di bidang penerbangan. Tapi itu topik menyimpang untuk lain kali.]

Kenyataannya, pekerja sarana transportasi publik adalah juru kunci putaran roda ekonomi urban. Tanpa mereka, kita yang tinggal di kota mati langkah. Buktinya, berkali-kali kita merasa lega tak terkirakan ketika angkutan umum yang dinanti muncul untuk mengantar pulang dengan tarif yang relatif jauh lebih murah dibanding taksi, pesawat, apalagi heli pribadi.

Seandainya DepDikNas benar-benar peduli pendidikan, bukannya sekedar statistik banyaknya siswa SD & SMP yang hadir di ruang kelas untuk mempertahankan program rendah-kualitas sejenis iklan di atas, mestinya bukan orang tua murid yang mereka lecehkan. Bukankah orang tua murid itu jelas-jelas sudah pontang-panting menyekolahkan anak mereka?

Seandainya betul dengan sekolah sampai SD dan SMP saja sudah cukup untuk jadi pilot atau wartawan, mungkin iklan tersebut masih masuk akal. Jangankan SMA, sekolah sampai sarjana saja belum tentu mendidik atau meningkatkan kualitas kehidupan seseorang, apalagi menghormati jabatan yang diamanatkan kepadanya.

Ngomong-ngomong, (dan ini untuk terakhir kalinya saya berandai-andai – jadi bolehlah ditulis sengawur-ngawurnya) seandainya ada Pemilu untuk jabatan yang paling terhormat atas dasar pengabdian dan efektifitas sehari-hari, tanpa malu-malu semua supir angkot, ojek, becak dan bajaj akan mendapatkan suara saya. Bukan apa-apa, tapi saya lebih kenal dan mempercayai mereka yang mangkal di ujung jalan daripada kapten pesawat TerbangTinggi Airlines.

Menurut Anda bagaimana, efektifkah pesan yang disampaikan DepDikNas lewat iklan tersebut?

 

Note: Publikasi artikel tamu berjudul “Iklan Pendidikan Melecehkan Kecerdasan” di blog ini adalah jawaban saya atas Proposal Guest Blogging yang diajukan oleh Hning. Menurutnya, ia sedang menguji nyalinya untuk ngeblog dengan bahasa Ibunya. Jika tanggapan pembaca blog ini menggembirakan, ia akan kembali mengirimkan artikel-artikelnya. Ia sendiri, punya website di http://hning.asia/

20 thoughts on “Iklan Pendidikan Melecehkan Kecerdasan

  1. benar mas… iklannya banyak mengecohkan juga.. coba bilang gratis tapi itu hanya untuk sekolah2 negeri…. mereka bisa gratis penuh karena gaji gurunya dari pemerintah..coba sekolah swasta..wah uang bos mana cukup…

  2. Kadang ada saja kesalahan anatara iklan dengan pesan yang akan disampaikan
    Ini memang tergantung persepsi yang melihatnya

    Moga pendidikan di Indonesia makin maju
    Semangat!

  3. Yang pasti menurut saya iklan tersebut tidak berniat melecehkan namun memang kata2 tadi yang disebutkan dapat dianggap sebagian orang sebagai bentuk pelecehan. Trims

  4. Hmmmm… nyata nya sekolah yang telah berpredikat SBI atau RSBI bayarnya lebih mahal begitu pula dengan sekolah unggulan atau percontohan. Daku lebih baik milih sekolah biasa ajah yang gratis 9 tahun.

    TV merupakan alat propaganda dalam membentuk stereotype. Problemnya adalah bagaimana kita menyikapinya. Bila iklan tersebut dianggap sebagai bentuk pelecehan, it’s okey. Membuat iklan membutuhkan kreatifitas tinggi agar dapat pemahaman yang homogen.

    Salam Superhangat.

  5. kayanya sih nggak bermaksud melecehkan…cuma penyampaiannya kurang oke kali…
    tolok ukurnya kesuksesan untuk iklan di atas memang cuma kesejahteraan (finansial) saja….

  6. gratis? okelah, tapi apakah pemerintah juga tidak mencanangkan bagaimana agar para pesera didik, para pendidik untuk bergaya hidup sederhana, mendidik dengan sederhana sehingga biaya jajan, biaya transportasi, biaya pernak-pernik pakaian sekolah dll tidak lebih mahal atau sesuai dgn sekolah gratis itu?

    di karawang ini, lihatlah anak-anak sekolah yang berlomba canggih2-an hp, skuti, distro, de-el-el..

    saya ndak butuh sekolah gratis, saya butuh pendidikan yg sederhana tetapi serius..
    ada yg ndak setuju dgn saya? ke laut aja … 😀 😀

  7. kalo sayah nangkepnya gini, pendidikan gratis itu kan untuk semua lapisan, termasuk lapisan ekonomi ke bawah, nahhh iklan tersebut segmentasinya memang ke situ, dimana bahasa & cara penyampaian pesan tersebut sedemikian rupa sehingga cukup merakyat dan pesannya tersampaikan ke lapisan tersebut.

    Seandainya disajikan dengan bahasa yang lebih tinggi sesuai dengan pembahasan pak Guskar di atas, kemungkinan mereka agak susah mencerna apa pesan utama dari iklan tersebut. Saya kira ga ada maksud melecehkan profesi tertentu kok.

    tiap2 kepala punya pemikiran sendiri2 dan menurut saya ga masalah kok punya pendapat yang berbeda 🙂

  8. menurut hemat saya.. iklan itu menggunakan bahasa awam yang bisa dimengerti orang banyak, bukan maksud melecehkan..

    jujur saja nih, banyak orang yang suka melecehkan pekerjaan kasar seperti tukang becak, tukang sayur, dkk.. tapi mereka ga pengen anaknya ikutan kayak mereka. maka timbullah jargon “Biar bapaknya supir angkot, anaknya bisa jadi pilot. Biar bapaknya loper koran, anaknya bisa jadi wartawan”. saya rasa ini sebagai motivasi saja..

    yang udah sukses berarti anaknya nanti kudu lebih sukses donk.. 🙂

  9. membaca komentar2 di atas bikin saya jadi bertanya-tanya, apa mungkin tujuan pemerintah utk menyekolahkan anak bangsa berbeda dgn tujuan orangtua murid? lepas dr tujuan finansial (biar pinter cari duit), apa ada alasan lain utk sekolah?
    🙂

  10. maksudnya sih itu urusan gaji aja . kan daripada jadi supir angkot udah gajinya kecil, panas, bau, mending jadi pilot.

    Sekolah gratis ada dimana-manaaa. .
    Lega rasanyaaa. .
    *joget-joget*
    dam di dam di dam dam dam dam. dam di dam di dam dam .

  11. yah, semestinya tidak harus merendahkan profesi orang lah. Apakah ada koran kalo tidak ada loper koran, apa ada pilot kalo gak ada supir angkor? Seharusnya iklan pendidikan bukan tujuan pekerjaan semata.
    Akibat orientasi sekolah untuk kerja, para siswa dan guru menjadi pragmatis. Studi-studi yang tidak jelas lapangan pekerjaannya enggan ditengok, sementara studi tersebut memberi kontribusi besar kepada kemanusiaan. Karena orientasi penidikan untuk cari kerja, maka mental bangsa kita menjadi kuli. tidak ada mental wirausaha. karena tidak ada yang bermental wirausaha, makanya dikuasai oleh pengusaha yang itu2 aja.
    Wah. kolo soal pendidikan, mestinya saya buat posting aja ya…
    v

  12. aku terdiam… makna dari iklan bahwa sekolah gratis itu saja sudah salah kaprah… mana ada sekolah gratis… ???? pertanyaannya lalu dari mana operasional sekolah berasal.. bantuan pemerintah.. kha… lah uang pemerintah dari mana.. pajak dari rakyatkan.. tetap rakyat yang harus bayar.. khan.. sudah sewajarnya program sekolah gratis menurut saya .. hilangkan saja.. dah.. kasih saja beasiswa bagi yang kurang mampu.. titik.. !!!

  13. mungkin iklan ini memang tidak tersampaikan dengan efektif pada audience nya.
    yang melihat dan mendengarkan jadi memiliki persepsi sendiri.
    kan iklan yg baik harusnya tersampaikan pesannya, menurut saya begitu, salam.

  14. Di indonesia ini banyak yg mendapatkan kesempatan karena relasi bukan skill, makanya iklan2 pendek akal seperti itu bisa diproduksi. Tidak hanya itu saja, produser sinetron religi gak konsul sama ahli agama, kartun hadiah susu kaleng penuh kata umpatan tak pantas. Hehe, gimana ya? Untung aku gak masang tipi di rumah gus. :p

  15. (mbatin sebentar, “Biar bapaknya supir angkot, anaknya bisa jadi pilot. Biar bapaknya loper koran, anaknya bisa jadi wartawan” itu termasuk parikan seperti kata pakde cholik bukan yah?)

    Ada pesan kiai yang akan selalu saya ingat, bahwa pendidikan kita, adalah pendidikan warisan penjajah, dengan warisan strata feodalnya. Di buku Panggil Aku Kartini Saja (sedang saya baca), surat-surat Kartini bercerita, bahwa ternyata budaya feodal itu sampai sedemikian rupa, sehingga berusaha dilestarikan oleh kaum penjajah. Cerita tentang urutan pemanggilan siswa di sekolah, atau cerita tentang penolakan pesawat telepon hanya karena tidak bisa melihat apakah yang sedang bicara dengan Pangeran Tegal tersebut memulainya dengan sembah atau tidak.
    Sepertinya iklah ini menegaskan hal tersebut, tapi dengan cara yang ‘merakyat’ dan strata feodalisme yang berbeda 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s