Mandilah sebelum marah

0

Marah adalah satu dari ketujuh Dosa Mematikan di agama Kristen. Salah satu sumber kesengsaraan di agama Buddha. Dan di agama Islam, Kanjeng Nabi pernah ngewanti-wanti orang, “Apapun yang terjadi, jangan marah, jangan marah, jangan marah.”

Serius nih, apa salahnya orang marah?

Marah = Nafsu

Kanjeng Nabi ga ngebahas lebih jauh, ga ngebilangin jenis-jenis marahnya orang. Mungkin karena semua orang kalau marah sama: rentan nafsu. Orang kalau marah, nafsu ngomongnya, nafsu makan, minum, memukul, nafsu menyebadani pacarnya jadi lebih kenceng, atau nafsu beres-beres rumah.

(Anger burns all clean. – Maya Angelou) Continue reading

Badal

0

Karena kerjanya sebagai tukang becak, dipotong biaya hidup sehari-hari untuk sekeluarga, setelah menggenjot selama dua tahun baru terkumpul: Kisaran lima juta ke atas, sepuluh juta ke bawah.

Uang itu dibawa ke kyainya. “Tolong sampaikan pada orang-orang di Mekkah untuk menunaikan haji atasnama almarhum ayah saya.”

Haji ini namanya Haji Badal. Badal artinya subtitut/pengganti. Jika pahala yang menghajikan adalah uang badal yang diterimanya, pahala yang dihajikan adalah kesejahteraan di alam sana. Lalu apa pahala yang telah membecak selama dua tahun?

Logika langsung protes. Daripada uang sebanyak itu buat menghajikan orang yang sudah tidak butuh makan, minum dan merokok, kenapa tidak dibelikan buku, bata, atau beras? Kenapa malah dihamburkan tak berbekas? Continue reading

Keajaiban Keluarga

49

Lebih kurang satu bulan aku melakukan perjalanan Jawa-Sumatera yang menguras energi, emosi dan pikiranku. Memang, perjalananku kali ini agak berbeda dengan perjalanan-perjalananku sebelumnya. Kalau sebelum-sebelumnya perjalananku lebih kepada sekedar melepas kangen dengan kerabat dan teman-teman atau sekedar “laporan” rutin ke kantor atau juga sekedar “menampakkan” wajah ke mahasiswa, namun kali ini aku melakukan perjalanan dengan misi penting; KELUARGA. Continue reading

Ikrar dan Janji Kita Kepada Allah

38

Dalam ibadah sholat sesungguhnya ada ikrar dan janji kita kepada Allah. Pada sholat fardhu paling tidak kita mengucapkan janji dan ikrar sebanyak 17 kali. Janji dan ikrar dimaksud adalah :

1. Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiin ,yang artinya ” Sesungguhnya sahalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya untuk Allah, Penguasa Alam Semesta” (bagian dari do’a Iftitah). Ini berarti kalau kita sholat dan ibadah harus dengan niat semata-semata untuk mendapatkan ridho Allah dan bukan dengan niat-niat yang lain (agar dipuji atasan, agar diambil menantu oleh Pak Lurah, agar kelihatan alim atau santri dan sebagainya). Demikian pula hidup dan mati kita semuanya untuk ibadah, karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah dan menyembah Allah. Namun hal ini jangan sampai melupakan juga tugas kita yang lain yaitu belajar, bekerja, silaturahmi dan lain-lainnya dengan tetap kita niatkan sebagai ibadah. Continue reading

Cara Ampuh Mendidik Lelaki Iseng

53

Kereta pagi, Stasiun Jawa-Tengah-Paling-Barat, pertengahan minggu kerja.

MANGSA:

Wanita Belum-Paruh-Baya, sendirian, duduk di gerbong kelas tidak-pakai-AC, di kereta api yang tidak-terlalu ramai, pakaiannya serba hitam, kentara belum mandi tapi bercahaya dalam kenikmatan duniawi: membaca buku ditemani kretek dan kopi tubruk di pagi hari.

PEMANGSA:

Lelaki Belum-Paruh-Baya, mengenakan seragam pegawai kereta api, cincin kawin melingkari jari manisnya, bertahun-tahun kerja di kereta jarang melihat orang membaca buku, apalagi yang berpenampilan imut-seram seperti wanita ini.

Di Awal Perjalanan

Di awal cerita “Penjahit Kesedihan”, Lelaki Belum-Paruh-Baya duduk di sebelahnya. Wanita Belum-Paruh-Baya mengangkat mata dan mengangkat alis, lalu kembali membaca. Lelaki Belum-Paruh-Baya gemas. “Mbak mau ke mana? Namanya siapa? Kok judul bukunya aneh? Apa artinya bibir terindah di dunia? BlablaKHASLELAKIISENGblabla…” Continue reading

Beda Tipis

47

“Pagiii Paklik..! Mau numpang duduk bentar, boleh?”  

“Waduh, ada si genduk to iki. Tumben ke sini, Rein. Sejak pengumuman lulus kemarin kamu kok belum pernah kelihatan lagi, ke mana aja?” 

“Nggak ke mana-mana Paklik, aku bantu Bundo di Ladang. Baru hari ini keluar rumah soalnya Bundo minta tolong aku beli bakiak di tokonya Pak Haji Cholik dekat kelurahan sana itu. Berat banget nih. Bayangkan Paklik, Bundo pesan belinya 20 pasang!”  

Biyuh…Bundomu mau ngapain Rein, beli bakiak segitu banyak?” 

“Nggak ngerti Paklik, mungkin mau disumbangin buat mushola.”   Continue reading

Setengah mati – setengah hati

53

Dengan malas-malasan Rein membuka pintu pagar Padeblogan. Tanpa sapaan yang biasanya ceria dan muka yang ditekuk, Rein duduk di depan Kyaine yang sedang bekerja dengan laptop kesayangannya. 

Rein : Lekum. Napa Paklik nyuruh aku ke sini? 

Kyaine : Waalaikumsalam Rein. Kene…kene.. Sini dekat Paklik sini.  Nggak napa-napa, Paklik cuman pengin ketemu saja, kata Bundomu  akhir-akhir ini kamu seperti kehilangan semangat ya? 

Rein : Aku capek Paklik, lelah banget. Segala hal yang berhubungan dengan UN benar-benar bikin aku stress.  Continue reading

Herder Galak yang Menyalak

61

Suatu pagi yang cerah di Padeblogan. Ketika matahari bersinar terang, burung bernyanyi dan ilalang berseri, namun mendung justru menggelayut di wajah Rein yang tak seberapa manis itu.

“Paklik, aku sekarang lagi beteeee banget. Kalau kata Inyiak Surau ini namanya bete takewer kewer, gimana siyh cara ngilanginnya?” tanya Rein memelas.

“Hmmm..”  Kyaine hanya mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali tenggelam di balik bukunya.

“Pakliiiiiiikkkk..!” Rein mulai menjerit, “ditanya kok cuek siyh? Huh, aku pulang nih!”

“Gampang wae Rein,” Kyaine bersuara sambil menyeruput jus tomatnya, “nekjika ketemu sama herder yang galaknya minta ampun apa yang kamu lakukan?” Continue reading